Memorabilia

Yang sempat diabadikan disini merupakan sesuatu yang patut untuk dikenang; sebuah memorabilia

“Sebuah lagu memang selalu punya kesan tersendiri, kan?”

Bu, seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa menangis adalah perbuatan sia-sia. Setelah mengatakan hal itu dia menghilang begitu saja. Kemudian aku hanya bisa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai; menangis. Tiba-tiba dia datang lagi dan kembali mengatakan hal yang sama, “Menangis itu perbuatan yang sia-sia. Menangis tidak akan menyelesaikan apapun.” Sejak detik itu aku berikrar untuk tidak membiarkan mataku basah di hadapannya. Namun dia menghilang lagi, Bu. Lantas, apa aku harus menangis lagi agar dapat menghadirkan sosoknya kembali?

“Aku menunggu kabarmu, karena mencarinya aku belum tahu caranya. Sekalipun tahu, mungkin aku takkan melakukannya. Namanya juga pengagum rahasia.”

– (via jalansaja)

Bu, akhir-akhir ini ada banyak resah yang tak tersampaikan. Kalau saja aku bisa membeli hari, maka akan aku habiskan satu hari itu hanya denganmu hingga tak bersisa agar segala resah dapat diterjemahkan. Maaf, bukan maksud sulungmu untuk lalai.

Jangan Berhenti Melangkah »

Kita pernah duduk bersama-sama di dalam bumi yang sama. Meski kita duduk sendiri-sendiri dikursinya masing-masing. Kita pernah berpapasan di jalan ketika menikmati sore hari. Meski kita tidak ingat lagi kapan itu terjadi. Sebab kita tidak saling kenal.

Kita bergerak seperti daun-daun yang…

“Terkadang kita merasa takut untuk menghadapi tantangan sehingga merasa bahwa berlari adalah jawabannya. Padahal setelah kita melewati tantangan itu, ketakutan yang sebelumnya ada itu tidak ada apa-apanya.”

– Ayah

Mungkin koran-koran itu akan bilang seperti ini, “Jadi aku ditinggalkan begitu saja?”

Mungkin koran-koran itu akan bilang seperti ini, “Jadi aku ditinggalkan begitu saja?”

Surat Terbuka untuk Seseorang yang Seharusnya Menggenapkan

Teruntuk kamu,

Kamu tahu lelah? Kamu tahu merasa sendiri? Kamu tahu merasa sedih, sakit, dan kesal dalam detik yang sama tapi kamu tidak tahu bagaimana meluapkannya? Tentu kamu takkan tahu karena itu hanya bisa dirasakan oleh seorang perempuan bodoh. Tidak akan ada lelah kalau bisa dilakukan bersama. Tidak akan merasa sendiri bila bisa bersama-sama. Tidak akan ada perasaan tolol itu kalau saling terbuka satu sama lain.

Satu yang perlu kamu ingat. Terkadang genap tidak melulu salah. Menggenapkan yang ganjil terkadang memang baik. Two is better than one, huh?

Tertanda,

Seorang perempuan

satukatasaturasa:

Menangis atau tidak, ketika cinta terjatuh, pasti akan meninggalkan luka. Pernah, tak sengaja luka itu tersentuh sedikit cerita lama, padahal hanya tergores sedikit saja, namun luka itu kembali basah.

Pada saat yang tepat, rawatlah luka itu, agar lekas mengering dan mengelupas. Rawatlah dengan jemari ikhlas, rawatlah dengan kerelaan untuk melepas.

Juni sudah berada di belakangku. Haruskah aku mengintip sejenak apa saja yang sudah terjadi di Juni? Juni berlalu tanpa kejadian hebat. Terkecuali kelahiran adikku.
Saat ini Juli sedang bersamaku. Ia membawa kalender yang memiliki tanda dan catatan dimana-mana. Kemudian Agustus sudah berdiri di belakangnya. Agustus membawa seperangkat catatan berupa pengingat rapat dan kegiatan yang dilaksanakan hampir setiap hari. September juga berdiri disana. Ia sedikit mengintip kepadaku karena Juli dan Agustus menghalangiku. Ia berteriak, “Jangan lupakan tanggal 13!”. Aku tersenyum karena ia sudah mengingatkanku perihal tanggal lahirku. “Jangan lupa tanggal 13 ada evaluasi besar! Kau harus hadir!” Rasanya aku ingin tertidur hari ini dan terbangun ketika September sudah berlalu. Wake me up when September ends. Namun, kalau kubiarkan bulan-bulan luar biasa itu berlalu begitu saja, aku tidak akan pernah berproses dengan baik dan benar. Jadi?

Kemarin adalah hari yang menyenangkan. Jarang-jarang saya meluangkan waktu untuk menyenangkan diri saya sendiri. Orang-orang mungkin menyebutnya dengan me time. Bagi saya, memanjakan diri sendiri itu tidak perlu ke tempat semacam salon atau tempat-tempat yang bisa menguras uang kita dalam sekejap. Tak perlu muluk-muluk, cukup dengan pergi ke toko buku seorang diri, itu benar-benar me time yang berkualitas!

Maaf, saya masih ingin berlari. Seorang diri. Tidak tahu sampai kapan. Sebab garis akhir belum terlihat setitik pun dimataku.

Seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan bukan berarti ia sedang menunggu angkutan lewat atau sedang menanti ada yang datang. Bisa saja sebenarnya dia sedang menyambut malaikat pencabut nyawa datang kepadanya. Kita takkan pernah tahu karena kita bukan Sang Maha Mengetahui. Sama halnya dengan diamnya seseorang. Seseorang yang diam bukan berarti tidak memikirkan apa-apa. Bisa saja dia sedang mencoba meredam amarahnya. Bisa saja dia sedang malas bertukar kata dengan yang lain. Bisa saja dia sedang merencanakan perbuatan keji di pikirannya. Apapun yang tidak kita ketahui bisa saja terjadi. Karena kita bukan Sang Maha Mengetahui.

#10 Perempuan Biasanya

  • Ini bukan tulisan tentang dua manusia yang saling jatuh cinta. Ini adalah percakapan kecil tentang dua manusia yang sedang belajar mengenal cinta.
  • #1
  • Lelaki: Jam 7 malam gini kamu makan?
  • Perempuan: Aku lapar. Tadi siang aku nggak sempat makan. Ada yang salah?
  • Lelaki: Nggak sih, biasanya kan kalau perempuan begitu lewat maghrib nggak akan makan.
  • Perempuan: Perempuan yang mana?
  • #2
  • Lelaki: Kamu nggak minta email sama password semua akun yang aku punya?
  • Perempuan: Buat apa?
  • Lelaki: Ya mana aku tahu. Biasanya kan perempuan gitu.
  • Perempuan: Perempuan yang mana?
  • #3
  • Lelaki: Kamu nggak pinjam handphone aku?
  • Perempuan: Buat apa? Aku udah punya handphone sendiri.
  • Lelaki: Ya perempuan kan biasanya gitu, geledah handphone pacarnya. Pacarnya berhubungan sama siapa aja gitu.
  • Perempuan: Perempuan yang mana?
  • #4
  • Lelaki: Kamu nggak cemburu liat banyak perempuan deketin aku?
  • Perempuan: Cemburu.
  • Lelaki: Terus kenapa diam aja? Biasanya kan perempuan langsung marah dan ngomel-ngomel.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Terus aku harus gimana? Aku belum nemuin sesuatu yang lebih berharga dari rasa percaya.
  • #5
  • Lelaki: Kamu nggak kangen sama aku?
  • Perempuan: Kenapa gitu?
  • Lelaki: Ya biasanya perempuan kan kalau kangen sedikit aja, pasti bilang.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Orang lapar itu nggak akan kenyang kalau cuma bilang lapar.
  • #6
  • Lelaki: Kenapa kamu nggak pernah ingetin aku sholat, makan, dan hal-hal kayak gitu?
  • Perempuan: Loh, emang kenapa?
  • Lelaki: Perempuan kan selalu ngingetin hal-hal kecil kayak begitu.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Aku pikir kamu udah tahu rasanya lapar dan waktu sholat, apa lagi yang harus aku ingetin?
  • #7
  • Lelaki: Kenapa kamu nggak mau aku antar sampai rumah?
  • Perempuan: Kenapa harus?
  • Lelaki: Ya kan kamu perempuan. Biasanya ya tugas laki-laki nganter perempuan sampai rumah.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Selagi aku masih bisa pulang sendiri, kenapa aku harus manja dan ngrepotin kamu?
  • #8
  • Lelaki: Kamu nggak bete liat aku sibuk sendiri?
  • Perempuan: Nggak. Kamu nggak liat aku juga sibuk sendiri?
  • Lelaki: Aneh. Biasanya kan perempuan selalu ngomel kalau pacarnya sibuk sendiri.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Perempuan pengangguran?
  • #9
  • Lelaki: Kenapa kamu nggak nyuruh aku berhenti ngerokok?
  • Perempuan: Karena kamu nggak mau berhenti.
  • Lelaki: Aku nggak bilang gitu. Lagian biasanya perempuan mana peduli sih pacarnya mau berhenti atau nggak.
  • Perempuan: Perempuan yang mana? Kamu udah dewasa kan? Udah tahu juga dong baik buruknya segala sesuatu, termasuk akibat-akibat dari ngerokok.
  • #10
  • Lelaki: Kamu jadi perempuan dingin banget sih?
  • Perempuan: Ada masalah?
  • Lelaki: Ya aneh aja. Kamu nggak kayak perempuan biasanya.
  • Perempuan: Kamu udah terlalu sering disulut api. Jadi ya aku nggak perlu jadi api lagi. Aku harus balikin kamu ke suhu normal.
  • Ini adalah percakapan kecil tentang dua manusia yang sedang belajar mengenal cinta, dengan dua masa lalu dan dua pengalaman hidup yang berbeda.